10 April 2010

MEREKA BUKAN TIKUS

0 komentar

Iwan Fals (1986) meneriakkan kebenciannya pada manusia rakus yang bersembunyi di meja kerja itu dengan “tikus-tikus kantor” yang beradu kotor dengan “kucing-kucing yang kerjanya molor”, sementara (semoga Allah menyayanginya) Mogi Darusman (1978) harus rela dibreidel lagu-lagunya pada saat itu karena membuat panas telinga mereka yang merongrong tiang negara melalui metaphora “rayap-rayap” bersanding dengan “babi-babi” yang ganas berlomba makan-minum darah rakyat, dari desa sampai ke kota.

Kedua penyanyi dan penulis lagu tersebut dikenal lantaran suaranya lantang menyentil para penyelenggara negara yang selalu abai terhadap tugas dan kewajiban hakikinya, meski Almarhum Mogi Darusman karir musiknya tak sepanjang Iwan Fals, sang penerusnya. Dan pada pasca reformasi, sekawanan musisi berbendera “Slank” giat menjual sindirannya pada makhluk yang sebenarnya bernama ”koruptor” itu.

Ensiklopedia Wikipedia membeberkan semua catatan yang masuk melintasi internet tentang korupsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang dalam peta diberi warna merah untuk menggambarkan sebagai negara yang IPK (Indeks Persepsi Korupsi) nya tinggi.

Aktifitas busuk, rusak, memutarbalikkan kebenaran, serta menggoyahkan sendi-sendi kekuatan bangsa dan negara ini, menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus / politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya dengan menyalahgunakan kekuasan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dan ujung dari prilaku menjijikkan itu adalah berdirinya negara kleptokrasi, yaitu negeri yang dipimpin, dikuasai dan dikendalikan oleh para pencuri serta dihuni oleh para pencuri pula, sebagai akibat dari proses panjang pembiaran aktifitas begundal yang lambat-laun menjadi kebiasaan yang wajar dan layak diikuti.

Semua ahli hukum dan tatanegara di penjuru bumi ini pasti sepakat bahwa kejahatan korupsi berbeda dengan kejahatan kriminal. Bahkan sebagian berpendapat bahwa korupsilah yang memuluskan jalan bagi banyak kejahatan kriminal, seperti (1) money laundering (pencucian uang), (2) narkotika, (3) perdagangan manusia (trafficking) dan (4) prostitusi.

Dan Indonesia termasuk ke dalam kategori negara berkembang yang memiliki keempat jenis kriminalitas tersebut dengan trend graphic menanjak tajam.

Inikah pertanda bahwa sesungguhnya negeri ini sudah tidak memiliki muru’ah (harga diri) bangsa yang bisa dibanggakan lagi, dan perlahan-lahan bergerak menuju masa kehancurannya, terjerembab ke dalam berbagai kehinadinaan, terperosok ke dalam kenistaan pada hampir semua persoalan bangsa, serta kian terpuruk untuk berdiri tegak di antara bangsa-bangsa di dunia ?

Money Laundering hasil kejahatan korupsi ala Indonesia pun punya ciri khas tersendiri, misalnya untuk bangun rumah ibadah, sekolah, bantuan ke berbagai bencana serta yayasan sosial, dan semacamnya. Di item narkoba lain lagi ceritanya. Bisnis haram ini seringkali bersinggungan karena adanya proses “lolos saling butuh” antar produsen, pemasok, pengedar dan petugas. Sementara kejahatan perdagangan manusia dan prostitusi mengambil porsi dari kejahatan korupsi disinyalir karena berbagai pendekatan para pegawai publik dibantu oleh berbagai lapisan masyarakat yang lagi-lagi ada proses “lolos saling butuh” melalui game of law untuk melenggangkan dan melanggengkannya, sejak zaman penjajahan hingga zaman SBY sekarang ini.

Kemampuan atraktif para penggila korupsi di negeri ini pun terbilang vulgar..Hampir semua media mengabarkan tentang praktek-praktek koruptif, kolutif dan nepotis di area publik, cuma yang diblow up media yang mengusik para pemangku kewenangan di pusat maupun daerah. Pastinya hal ini tidak pernah terjadi di dunia binatang. Barangkali kalau pun dipaksakan, fabel akan mewakili kekosongan memori tentang prilaku binatang serupa koruptor. Tikus, kucing, cicak, buaya, kakap dan rayap itu tidak “sebejad” koruptor yang pura-pura jadi rahib-rahib suci itu.

Sekedar untuk membuat komparasi bagi isi kepala manusia yang pada awal penciptaannya begitu dimuliakan Tuhan Sang Pencipta, sambil berharap agar akan ada upaya evolusi yang gradual, kalau tak bisa mendambakan ikhtiar revolusi yang komunal, dalam Al-Qur an, Kitab Suci Ummat Islam, Surat Al-An’am (6) ayat : 179, Allah SWT mengingatkan tentang ula’ika kal an’am (mereka itu seperti binatang ternak), sebuah perumpamaan tentang adanya persamaan tertentu antara manusia dengan binatang yang kemudian masuk ke dalam bahasa komunikasi manusia sebagaimana ketika berhadapan dengan prilaku manusia yang telah kehilangan sinyal-sinyal kebaikan (petunjuk) dalam dirinya, lalu bergerak mengikuti anatomi binatang. Hanya saja bal hum adhall (tetapi mereka itu sesat sesesat-sesatnya) lantaran lahum qulubun (mereka itu memiliki hati) tetapi la yafqahuna biha (tidak digunakan untuk memahami petunjuk itu), wa lahum a’yunun (mereka juga punya seperangkat mata) tetapi la yubshiruna biha (tidak diberdayakan untuk melihat petunjuk itu), juga wa lahum adzanun (mereka pun dibekali seperangkat telinga), sayangnya la yasma’una biha (tidak dimanfaatkan untuk mendengar petunjuk itu). Demi semangat kebinatangan yang mengisi sel-sel darahnya saat melakukan tugas dan kewajiban melayani masyarakat yang ada di punggungnya ulaika hum al- ghafilun (mereka mengabaikan semua petunjuk itu).

Demikian detail Al-Qur an menjelaskan petunjuk itu. Dan apapun agama, keyakinan serta aliran para koruptor itu, sesungguhnya salah satu sel syaraf di tubuhnya pasti akan membenarkan apa yang dituturkan Allah SWT sebagaimana tersebut di atas. Semoga membenarkannya adalah pemecah sumbatan-sumbatan dalam aliran darah, menuju petunjuk itu.

Wallahu ‘a’lam

Gagasan dalam Harian Umum Baraya Post, 8 April 2010
Selengkapnya...

05 Maret 2010

MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN MASALAH

0 komentar

Resonansi Maulid Nabi SAW

Jejak kelahiran Rasulullah SAW mendapat perhatian yang “meriah” dari sebagian besar masyarakat muslim Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Dan di masyarakat muslim “baru” di Eropa, Amerika, Australia dan beberapa negara Asia lainnya juga, dalam bulan Rabi’ul Awwal ini mengkhusyukkan diri dalam penelurusan biografi “The Last Prophet” ini melalui berbagai diskusi, bedah buku, ceramah dan pemaparan mengenai “Sirah Nabi” yang bermuara pada kesimpulan besar : How beautiful Muhammad’s way to love all of mankind. Dan banyak hati yang kemudian “falling in love” pada Muhammad SAW dan semua yang dicintainya, Allah, Al-Qur an dan kelangsungan umat manusia untuk berada dalam cahayaNya.

Menelusuri perjalanan Muhammad SAW sebagai “model” atau “uswatun hasanah” bagi pribadi mana pun yang merindukannya pasti akan menemukan betapa ia adalah figur yang amat dibutuhkan saat ini, saat Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini lambat laun menjadi negeri yang penghuninya porak-poranda dalam berbagai macam dan bentuk bencana yang “hand made” dari tangan-tangan yang visible dan invisible serta kadang “by design” oleh kepala-kepala yang touchable dan untouchable. Hingga tidak jarang kerinduan itu pun terlukiskan dalam kalimat-kalimat melambung menyerupai angan-angan dan mimpi-mimpi :

Aku merindukanmu
Untuk anak-anak yang mabuk karena permen narkoba dan handphone di tangannya
Aku merindukanmu
Untuk gunung, bukit dan hutan yang digunduli siang-malam
Aku merindukanmu
Untuk para pemimpin besar dan kecil yang tak henti berdusta
Aku merindukanmu
Untuk si miskin papa yang berderet-deret panjang bershaf-shaf menunggu izrail datang
Aku merindukannu
Untuk masjid-masjid yang kosong
Aku merindukanmu
Untuk rumah-rumah yang ditinggalkan malaikat-malaikat penjaga
Aku merindukanmu, ya Nabi !
Untukku yang tak juga pandai meniru tingkah lakumu
Indonesia memerlukan kecerdasan “Sang Nabi” untuk mengentaskan semua masalah yang memenuhi seluruh penjuru wilayahnya. Ketika kemiskinan dijajal dengan Bantuan Langsung Tunai versi nasional dan Bantuan Langsung Masyarakat versi lokal atau “saweran” sejumlah uang dari para dermawan berdalih zakat, infaq, shadaqah atau tradisi lainnya telah terbukti tidak menyelesaikan masalah kemiskinan yang sesungguhnya, mestinya logika segera dikedepankan, hentikan secara sistemik ! Langsung gantikan dengan program empowering of people yang dapat dilakukan oleh semua pihak, pemerintah, swasta, komunitas dan perseorangan. Penghargaan dari pemerintah terhadap kerja-kerja kreatif menyangkut pemberdayaan masyarakat dengan menularkannya menjadi budaya masyarakat baru melalui program yang terstruktur, terukur dan terencana akan memposisikan masyarakat miskin (baca : sekarang} sebagai asset bangsa yang membanggakan bangsa di kemudian hari. Tanpa harus malu untuk mendukung dan memperluas, menguatkan kegiatan seseorang, sekelompok orang, swasta atau inisiatif pemerintah daerah tertentu yang telah terbukti menyibak sedikit demi sedikit selubung kemiskinan yang membalut masyarakat tertentu. Ketimbang menggelontorkan uang (baca : hutang) yang tidak berdampak baik bagi masyarakat, dan mengakibatkan makin membengkaknya hutang negara.

Ketika penelantaran anak atas nama apa pun yang jadi konsentrasi, mestinya bukan nikah sirri yang dipaksakan sebagai penyebabnya, juga bukan poligami yang didistorsi eksistensinya. Serbuan tak kenal ampun budaya individualisme, konsumtivisme, pragmatisme dan hedonisme mengoyak seluruh pertahanan norma-norma yang tak terlalu kukuh dipegang masyarakat Indonesia . Mempertanyakan kembali kemana larinya budaya gotong-royong untuk peduli pada kebutuhan dasar sesama, masih adakah patriotisme dan pionirme dalam kebaikan di hati anak bangsa, dan kemana pula perginya kebiasaan kerja keras dan tahan uji itu dari purta-putri pertiwi ini, pasti akan dapat merumuskan formula apa yang tepat untuk mengasuh kembali semua anak-anak Indonesia menjadi bangsa yang (baca : pernah) besar lagi. Melakukan pendataan yang menyeluruh tentang penyebab penelantaran anak yang sesungguhnya, pasti akan meluruskan kembali logika berfikir para pemimpin yang diberi amanah untuk menyelamatkan hamper separuh dari penghuni negara kepulauan ini. Bukankah nampak di depan mata banyak kasus penganiayaan anak oleh pasangan suami istri yang menikah secara sah berdasarkan hukum positif ? Pendiskreditan terhadap salah satu keyakinan agama tertentu sama sekali bukan jalan keluar.

Kalau mengantisipasi ancaman kemanusiaan dan lingkungan dari bencana banjir, rob, longsor, kebakaran, pencemaran air dan udara yang menjadi fokus bersama, maka pasti akan berani “supra galak” (baca : ketegasan berbasis nilai-nilai luhur) terhadap semua lalu lintas kegiatan hutan, sungai dan laut, bukan reaktif sesaat pasca kejadian. Mesti ada buku besar yang wajib diikuti oleh semua departemen sampai ke tingkat paling rendah tentang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW). Maka akan menjadi transparan siapa yang harus melakukan apa seputar tata letak bangunan, pohon dan (bahkan) binatang sekali pun. Pemerintah maupun pemerintah daerah tidak akan mudah tergiur dengan gemerlap income berbagai pajak dan retribusi yang menggoda dari para perusak tatanan itu. Ada visi responsibility 1000 tahun ke depan yang harus diperhatikan. Ada visi pertanggungjawaban dunia dan akhirat pada setiap kebijakan yang akan dikeluarkan.

Sang Nabi SAW yang agung itu adalah seorang ordinary man {bukan tuhan atau dewa yang tidak butuh tidur, istri, anak, cinta dan sebagainya) yang ‘ummi (Bahasa Arab : buta aksara) yang addabaniy rabbiy (Bahasa Arab : aku dituntun (langsung) oleh Tuhanku) dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pembentuk pribadi luhur para pengikutnya hingga akhir dunia, sebagai politisi ulung yang semua kebijakan yang disabdakannya tetap berpengaruh positif pada kehidupan ekonomi, sosial, keilmuan, pertahanan, keamanan, kebudayaan dan lain-lainnya ke seluruh penjuru dunia, dan pasti hingga ujung umur dunia ini.

Muhammad SAW yang mulia itu pernah meminta agar menanam biji kurma sebagai ibadah yang akan dinikmati anak-cucu. Ia juga pernah berdiri menggunakan lututnya untuk menenangkan dan mengusap airmata seorang anak kecil yang menangis kehilangan merpati dari tangannya karena takut dimarahi orang tuanya.

Rasul SAW yang amat dicintai Tuhannya ini adalah seorang panglima perang yang menggetarkan musuhnya. Ia pun seorang diplomat yang selektif dalam memilih duta negara yang akan ditugaskan ke suatu wilayah atau pekerjaan, karena penting baginya untuk memastikan para pembantunya untuk menyelesaikan masalah tanpa harus menghadapi masalah baru lainnya, karenanya ia telah mewariskan 2 (dua) hal yang amat berharga, yaitu Al-Qur an dan Sunnahnya sebagai panduan melaksanakan semua langkah, tanpa kecuali.
Selengkapnya...

06 Februari 2010

Cukup 92 Hari

0 komentar

Pundak tak akan lebih dari tiga jengkal, sementara beban telah berbaris rapi ribuan mil.
Otak tak lebih dari dua kepal, sedangkan gelisah menggumpal dalam darah yang mengaliri setiap helai urat halusnya.
Jantung dan hati berpagar lengkungan iga pecah membuncah ketika amarah dan gundah mematikan signal arah yg menghubungkan keduanya

La hawla wa la quwwata illa billah

Satu hari belum cukup untuk menutupi lemah yang tak Kau suka
Dua puluh tujuh hari pun belum cukup untuk menghapus alpa yang tak kau izinkan
Enam puluh lima hari belum juga cukup untuk mengabulkan semua asa
Pada hari ke sembilan puluh dua ini, Tuhan !
Telah cukup untuk Kau luruhkan semua dosa ibuku dengan sakit yang menderanya
Pada hari ke sembilan puluh dua ini, Tuhan !
Telah cukup untuk Kau kabulkan semua doa ibuku lewat tiap tetesan darah yang merembesi kepalanya
Cukup sembilan puluh dua hari ini saja airmatanya menjadi mata air hidup kami setelah ia pergi

Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un Selengkapnya...

28 Oktober 2009

Sumpah Pemuda 2009 : Sumpah Harus Bisa

0 komentar

Syubbanul Yawm Rijalul Ghadd (Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan). Mestinya ungkapan tersebut jadi kalimat jimat bagi seluruh elemen masyarakat, menjadi visi dan missi semua jenis kebijakan, mengarahkan semua kaki yang melangkah setiap pagi merekah menuju pasar, sekolah, ladang, sawah, hutan, kantor, pabrik, kios, lapak, sungai, muara, laut maupun langit.

Siapa pun dan apa pun yang dilakukan sesungguhnya sedang meletakkan dasar-dasar dan tonggak-tonggak kehidupan yang akan datang. Di mana pun dia bergerak sejatinya mengarah pada kehidupan yang lebih mulia di hadapan manusia dan Tuhan. Dan hal paling penting bagi dasar, tonggak serta arah kehidupan yang lebih indah tersebut adalah human resources, sumber daya manusia.

Sepekan yang lalu, Republik ini baru saja menuntaskan tahapan paling ujung dalam sistem demokrasi yang diamanatkan oleh undang-undang, yaitu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat secara langsung, dialah pemuda (dulu) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono & pemuda (pada masa yang baru lalu) Prof Dr Boediono. Ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh sang mantan pemuda Presiden RI yang diberi amanat oleh demos (rakyat), pemegang kekuasaan yang sebenarnya, (baca : dan tentu saja amanat dari Tuhannya) untuk mengawal peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi dan penegakan keadilan untuk ke dua kalinya itu, antara lain : bahwa bangsa ini adalah bangsa yang “remarkable”, bangsa yang berhasil survive dalam hantaman krisis dengan mengatasi sedikit demi sedikit persoalan berat dan kompleks yang bertubi-tubi menimpa dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir. Dan untuk mencapainya bangsa ini wajib memiliki semangat tak kenal lelah dan pantang patah semangat, selalu menjaga persatuan dalam semangat kebersamaan, serta menjaga kepedulian pada jati diri, way of life dan harga diri bangsa.

Pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, pemuda Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menawarkan gagasan cerdas bahwa anak-anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan yang disajikan di sekolah-sekolah dengan kultur berwawasan pendidikan yang dikembangkan di setiap rumah, dan anak-anak negeri ini juga harus dididik secara demokratis. Betapa kedua tokoh muda saat itu concern pada pertumbuhan anak bangsa yang kelak akan meneruskan langkah-langkah yang telah dilakukannya.

Para founding father negeri saat itu pasti sedang ngeri membayangkan apa jadinya bila semua yang mereka perjuangkan tidak menghantarkan anak-cucunya pada kehidupan yang lebih baik, dan mereka mensinyalir bahwa pendidikan yang kondusif dan saling mendukung harus menjadi pokok pikiran seluruh elemen bangsa serta menjadi arah semua kebijakan yang menyangkut publik.

Kedua pemoeda tempo doeloe itu tanggap bahaya yang kapan saja bisa terjadi, yaitu kehilangan asset manusia yang sanggup berikrar sumpah setia untuk peduli pada kelangsungan bangsa ini. Boleh jadi keduanya saat ini tidak perlu cemas kehilangan asset penerus bangsa, karena menurut Badan Pusat Statistik (BPS) laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam beberapa tahun ke depan dimungkinkan dapat menyalip Amerika Serikat (AS). Jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah mencapai 227 juta jiwa, sedangkan penduduk AS berjumlah 315 juta jiwa, dan berdasarkan hasil survey yang dilakukannya, pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun bertambah 3,2 juta jiwa, maka setiap tahun penduduk Indonesia bertambah 3,2 juta jiwa. Yang lebih fantastis lagi, secara kuantitas jumlah pertumbuhan penduduknya saja setara dengan jumlah seluruh penduduk negara tetangga, Singapura.

Di Propinsi Banten yang pada Tahun 2008 berpenduduk 9.602.445 jiwa ini pun Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro tidak perlu khawatir, karena menurut BPS Propinsi Banten laju pertumbuhan penduduk di propinsi ini bergerak sampai angka 2,15 persen pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2008. Berdasarkan data tersebut pada tahun 2010 yang akan datang Propinsi Banten akan berpenduduk sekitar 10.015.350 jiwa. Meskipun pada titik tertentu kegundahannya cukup beralasan, ketika melihat data penduduk Banten yang berusia di atas 15 tahun pada tahun 2008 berjumlah 6.674.895 yang 2.349.440 di antaranya berada pada level penduduk Not Economically Active, tidak memiliki keahlian dan / atau kesempatan ekonomis secara aktif, ditambah dengan 656.560 jiwa tergolong dalam kelompok pencari kerja, sedangkan yang bekerja di berbagai sektor berjumlah 3.668.895 jiwa.

The Indonesia Economic Intellegience (IEI) memberikan data yang lebih menggelisahkan lagi, yaitu bahwa penduduk yang berada di klasifikasi pengangguran masih belum bergeser dari angka 8 persen hingga 10 persen dan angka kemiskinan di Indonesia pun masih relative tinggi, yaitu 12 persen sampai 14 persen. Dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada 2010 diproyeksikan sebesar 5 persen, dinilai tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja Indonesia yang pada Pebruari 2009 tercatat sebanyak 113,74 juta orang yang memasuki usia kerja. Apalagi ketika melihat kenyataan banyaknya perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai daerah di Indonesia pasti akan makin mendorong membengkaknya angka pengangguran di tanah air.

Ketika jumlah penduduk Banten pada 2010 diperkirakan sebanyak 10.015.350 jiwa, maka dengan estimasi angka dari IEI paling rendah saja (8 persen), di Banten akan dihuni oleh sekitar 808.424 orang pengangguran, belum lagi ketika row dan bar data tersebut ditambah dengan jumlah usia produktif yang not economically active. Pemerintah Propinsi Banten akan mendapat item permasalahan yang tidak sedikit lantaran (andaikan) menelantarkan data sebagaimana dimaksud.

Angka-angka tersebut sesungguhnya bisa saja lebih rendah, dan bisa jadi lebih tinggi. Tetapi yang pasti bahwa anak-anak, yang kelak akan menjadi pemuda, dan sebentar kemudian akan menjadi ar-rijal, dalam bahasa Arab tidak hanya bermakna laki-laki, melainkan (juga) merupakan sinonim dengan pemimpin dan penanggungjawab itu adalah penerus semua langkah, pelaksana semua rencana, pelanjut semua cita-cita. Andaikan (lagi) Pemerintah Propinsi Banten mengabaikan angka-angka peningkatan jumlah masyarakat miskin berdasarkan estimasi IEI, atau berdasarkan estimasi pihak mana pun, maka sepertinya kegelisahan para pemoeda tempo doeloe itu pun patut dimengerti, mereka mewasiatkan hal penting, bagaimana caranya agar generasi muda Indonesia mendapatkan materi pendidikan secara menyeluruh dan terus-menerus, tidak partial, tidak hanya di kelas-kelas, melainkan di rumah-rumah, di kelompok-kelompok tani dan nelayan, di radio, di televisi, di semua lagu yang diperdengarkan, di semua film yang ditayangkan, di semua produk percetakan, di semua lini bangsa ini.

Layak sekali bila Can Do Spirit (Semangat Harus Bisa)yang disampaikan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Sambutan Pelantikannya menjadi quote of all the year atau catatan penting bagi segenap bangsa Indonesia dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang pantang menyerah datang silih-berganti. Pengangguran dapat diselesaikan dengan penganggaran yang bijak dan berkeadilan, kemiskinan dapat diatasi dengan mengantisipasi dan mengenyahkan semua bentuk yang mengarah pada pemiskinan (proses menuju “miskin”), buta aksara, drop out sekolah, gizi buruk dan semua persoalan prosperity (kesejahteraan rakyat) lainnya akan dapat diurai satu per satu dengan semangat bela bangsa yang optimal dan tulus dari semua penentu kebijakan pemerintah, pemerintah daerah, ulama, swasta dan (tentu saja) pemuda Indonesia. Can Do Spirit itu pun pada hari ini menggelora di dada semua pemuda menjadi : Sumpah Harus Bisa, Can Do Swear dalam bingkai iman yang terpatri di hati. Semoga.

Terbit di Harian Radar Banten
Pada Rabu, 28 Oktober 2009

Selengkapnya...

Networking

Counter Powered by  RedCounter
 

Dra. E. Hafazhah Blog. Copyright 2008 All Rights Reserved ByThe Bungzhu Systems Converted into Blogger Template by Bungzhu Zyraith