Kedua penyanyi dan penulis lagu tersebut dikenal lantaran suaranya lantang menyentil para penyelenggara negara yang selalu abai terhadap tugas dan kewajiban hakikinya, meski Almarhum Mogi Darusman karir musiknya tak sepanjang Iwan Fals, sang penerusnya. Dan pada pasca reformasi, sekawanan musisi berbendera “Slank” giat menjual sindirannya pada makhluk yang sebenarnya bernama ”koruptor” itu.
Ensiklopedia Wikipedia membeberkan semua catatan yang masuk melintasi internet tentang korupsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang dalam peta diberi warna merah untuk menggambarkan sebagai negara yang IPK (Indeks Persepsi Korupsi) nya tinggi.
Aktifitas busuk, rusak, memutarbalikkan kebenaran, serta menggoyahkan sendi-sendi kekuatan bangsa dan negara ini, menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus / politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya dengan menyalahgunakan kekuasan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dan ujung dari prilaku menjijikkan itu adalah berdirinya negara kleptokrasi, yaitu negeri yang dipimpin, dikuasai dan dikendalikan oleh para pencuri serta dihuni oleh para pencuri pula, sebagai akibat dari proses panjang pembiaran aktifitas begundal yang lambat-laun menjadi kebiasaan yang wajar dan layak diikuti.
Semua ahli hukum dan tatanegara di penjuru bumi ini pasti sepakat bahwa kejahatan korupsi berbeda dengan kejahatan kriminal. Bahkan sebagian berpendapat bahwa korupsilah yang memuluskan jalan bagi banyak kejahatan kriminal, seperti (1) money laundering (pencucian uang), (2) narkotika, (3) perdagangan manusia (trafficking) dan (4) prostitusi.
Dan Indonesia termasuk ke dalam kategori negara berkembang yang memiliki keempat jenis kriminalitas tersebut dengan trend graphic menanjak tajam.
Inikah pertanda bahwa sesungguhnya negeri ini sudah tidak memiliki muru’ah (harga diri) bangsa yang bisa dibanggakan lagi, dan perlahan-lahan bergerak menuju masa kehancurannya, terjerembab ke dalam berbagai kehinadinaan, terperosok ke dalam kenistaan pada hampir semua persoalan bangsa, serta kian terpuruk untuk berdiri tegak di antara bangsa-bangsa di dunia ?
Money Laundering hasil kejahatan korupsi ala Indonesia pun punya ciri khas tersendiri, misalnya untuk bangun rumah ibadah, sekolah, bantuan ke berbagai bencana serta yayasan sosial, dan semacamnya. Di item narkoba lain lagi ceritanya. Bisnis haram ini seringkali bersinggungan karena adanya proses “lolos saling butuh” antar produsen, pemasok, pengedar dan petugas. Sementara kejahatan perdagangan manusia dan prostitusi mengambil porsi dari kejahatan korupsi disinyalir karena berbagai pendekatan para pegawai publik dibantu oleh berbagai lapisan masyarakat yang lagi-lagi ada proses “lolos saling butuh” melalui game of law untuk melenggangkan dan melanggengkannya, sejak zaman penjajahan hingga zaman SBY sekarang ini.
Kemampuan atraktif para penggila korupsi di negeri ini pun terbilang vulgar..Hampir semua media mengabarkan tentang praktek-praktek koruptif, kolutif dan nepotis di area publik, cuma yang diblow up media yang mengusik para pemangku kewenangan di pusat maupun daerah. Pastinya hal ini tidak pernah terjadi di dunia binatang. Barangkali kalau pun dipaksakan, fabel akan mewakili kekosongan memori tentang prilaku binatang serupa koruptor. Tikus, kucing, cicak, buaya, kakap dan rayap itu tidak “sebejad” koruptor yang pura-pura jadi rahib-rahib suci itu.
Sekedar untuk membuat komparasi bagi isi kepala manusia yang pada awal penciptaannya begitu dimuliakan Tuhan Sang Pencipta, sambil berharap agar akan ada upaya evolusi yang gradual, kalau tak bisa mendambakan ikhtiar revolusi yang komunal, dalam Al-Qur an, Kitab Suci Ummat Islam, Surat Al-An’am (6) ayat : 179, Allah SWT mengingatkan tentang ula’ika kal an’am (mereka itu seperti binatang ternak), sebuah perumpamaan tentang adanya persamaan tertentu antara manusia dengan binatang yang kemudian masuk ke dalam bahasa komunikasi manusia sebagaimana ketika berhadapan dengan prilaku manusia yang telah kehilangan sinyal-sinyal kebaikan (petunjuk) dalam dirinya, lalu bergerak mengikuti anatomi binatang. Hanya saja bal hum adhall (tetapi mereka itu sesat sesesat-sesatnya) lantaran lahum qulubun (mereka itu memiliki hati) tetapi la yafqahuna biha (tidak digunakan untuk memahami petunjuk itu), wa lahum a’yunun (mereka juga punya seperangkat mata) tetapi la yubshiruna biha (tidak diberdayakan untuk melihat petunjuk itu), juga wa lahum adzanun (mereka pun dibekali seperangkat telinga), sayangnya la yasma’una biha (tidak dimanfaatkan untuk mendengar petunjuk itu). Demi semangat kebinatangan yang mengisi sel-sel darahnya saat melakukan tugas dan kewajiban melayani masyarakat yang ada di punggungnya ulaika hum al- ghafilun (mereka mengabaikan semua petunjuk itu).
Demikian detail Al-Qur an menjelaskan petunjuk itu. Dan apapun agama, keyakinan serta aliran para koruptor itu, sesungguhnya salah satu sel syaraf di tubuhnya pasti akan membenarkan apa yang dituturkan Allah SWT sebagaimana tersebut di atas. Semoga membenarkannya adalah pemecah sumbatan-sumbatan dalam aliran darah, menuju petunjuk itu.
Wallahu ‘a’lam
Gagasan dalam Harian Umum Baraya Post, 8 April 2010










